BLACKWATER, PEMBUNUH BAYARAN AMERIKA
| wired.com |
A.
LATAR BELAKANG PASUKAN BAYARAN PROFESIONAL
AMERIKA. Blackwater adalah perusahaan militer sewaan yang bergerak dibidang
pengamanan. Perusahaan ini didirikan oleh Erik Princepada 1997 di Amerika
Serikat. Prince sendiri merupakan mantan anggota pasukan elit navy seal
(Angkatan Laut), yang mewarisi kekayaan dinasti Edgar Prince. Bermarkas di
Carolina Utara, mereka memiliki fasilitas pelatihan taktis terbesar di dunia.
Bahkan, tempat pelatihannya dapat disejajarkan dengan akaademi militer resmi
milik tentara AS, West Point.
Bisnis utamanya menyediakan pasukan pengawal, bantuan hukum,
penjaga keamanan, penjaga perdamaian, dan operasi pemeliharaan stabilitas di
negara yang sedang bergejolak, dimana Amerika terlibat didalamnya. Mereka
melatih sedikitnya 40.000 orang dalam setahun. Anggota resmi Black Water sendiri berkekkuatan 10.000 orang
pasukan. Mereka dilengkapi dengan persenjataan tercanggih di dunia dan alat
transportasi militer darat, laut, dan udara. Boleh dikatakan, Blackwater adalah
pasukan elit swasta yang sering menjadi garda depan pemerintah Amerika dan
berbagai zona pertempuran. Mereka mendapatnak total kontrak US$ 1 miliar.
Terdapat 20.000 tentara bayaran di Irak dan berbagai perusahaan. Blackwater
adalah yang terbesar. Masalahnya, dibawah hukum apa mereka berada jika terjadi
penyalahgunaan kekuatan? Apakah mereka tunduk dibawah hukum militer atau hukum
sipil?
B.
NODA BERDARAH DI IRAK DAN PAKISTAN. Kenangana
kelam akan perang Vietnam membuat Amerika berpikir panjang saat mengirimkan
tentara pemerintah ke wilayah konflik Irak dan Pakistan. Pada perang Vietnam,
presiden Johnson diam-diam menambah jumlah pasukan di ladang pembantaian
Vietkong, padahal rakyat Amerika menolak. Pemerintahan Bush dan Obama tampaknya
enggan untuk terlalu banyak mengorbankan nyawa tentaranya demi ambisi menjadi
polisi dunia. Jadi, pilihan terbaik adalah menyewa tentara bayaran atas nama
pemerintah AS. Tujuannya, mengamankan nyawa orang Amerika dan sekutunya di Irak
dan Pakistan.
Banyak masyarakat menduga bahwa tentara amerika telah
bertindak melebihi batas tugasnya di Irak dan Pakistan dengan membunuh penduduk
sipil. Tapi, tidak banyak yang tahu bahwa sebagian dari pembunuhan itu
dilakukan Blackwater. Berikut ini daftar laporan mengenai Blackwater yang
diselidiki oleh FBI:
1.
Pada 31 maret 2004, empat tentara Blacwater
disergap , dibunuh, dan di gantung di jembatan Fallujah, Irak oleh penduduk
yang ingin membalas perbuatan milier AS. Diduga kuat, mereka tidak bisa
membedakan mana tentara AS, mana tentara bayaran. Pemerintah AS berang dan
pasukan militernya menghajar Fallujah habis-habisan.
2.
Pada 4 April 2004, seoarng tentara AS, Kopral
Loonie Young, justru mendapat izin menembak demostarn di Kota Najaf, Irak, dari
pusat komando Blackwater. Banyak yang bingung, bagaimana bisa perusahaan swasta
mengambil kendali militer AS di situasi genting seperti itu. Akibatnya, ratusan
orang terbunuh saat itu menurt Young. Namun, pemerintah As ‘menciutkan’ jumlah
korban hanya 20-30 orang. Dari sini tampak praktik liberalisme AS sudah
menyentuh bidang militer. Peran swasta sangat besar dalam mengendalikan segala
sesuatu. Situasi yang sama juga terjadi pada industri perbankan Amerika yang
justru dikendalikan oleh federal Reserve, yaitu perusahaan swasta yang
bertindak sepert Bank Sentral.
3.
Pada 16 Februari 2005, pasukan Blackwater
menembakkan 70 peluru secara membabi buta. Alasannya, hanya karena curiga akan
sebuah mobil warga irak yang mendekat. Dalam penyelidikan, terungkap keterangan
palsu pasukan Blackwater yang mengaku mobil mereka ditembaki. Padahal, fakta
dan saksi menunjukkan bahwa merekalah yang menembaki mobilnya sendiri sebagai
alibi.
4.
Pada 25 Dessember 2006, seorang tentara
Blackwater yang sedang mabuk menembaki mati seorang pasukan pengawal Wakil
Pesiden Irak.
5.
Pada 16 September 2007, pasukan Blackwater
menembak 17 orang Irak. Lalu, 14 diantaranya dibunuh ‘tanpa sebab’
6.
Pada 6 Februari 2006, seorang penembak jitu
Blackwater menembak mati 3 pengawal yang bekerja di Iraq Media Network tanpa sebab yang jelas.
7.
Antara 2005 hingga 2007 saja, pasukan Blackwater
terlibat dalam 195 insiden penembakan, 163 kasus diantaranya berakibat pada
pemecatan personel Blackwater.
Hal yang memprihatinkan dan membuat banyak orang geram
adalah tentara bayaran yang bersalah kebanyakan hanya di hukum pemecatan.
Mereka tidak dikenai hukum milter ataupun hukum sipil. Pertama, mereka tidak
diajukan ke pengadilan militer karena pada dasrnya mereka bukan tentara
pemerintah yang resmi. Mereka hanya prajurit swasta. Kedua, mahkamah militer
hanya bisa diajukan kepada tentara atau mereka yang bekerja dibawah Departemen
Pertahanan Amerika, Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika.
Tapi masalahnya, pasukan Blackwater tunduk pada kontrak kerja Departemen Luar
Negeri. Ketiga, kejahatan yang dilakukan pasukan Blackwater terjadi jauh diluar
Amerika. Jadi, hukum sipil tidak dapat menjangkau mereka. Pembunuhan yang
dilakukan di Irak dilakukan ‘Atas Nama Amerika’. Bush bahkan sangat marah
ketika pemerintah boneka Irak (setelah tergulingnya Saddam) dengan berani
menyeret tentara bayaran yang bermasalah dengan hukum irak. Inilah yang
menjadikan seolah-olah pasukan bayaran ‘kebal hukum’ dan lebih digdaya daripada
militer AS.
Brigjen Karl Horst, Wakil Komandan Divisi AD III AS
mengatakan, orang-orang Blackwater bebas berkeliaran dan unjuk kekuatan tanpa
mampu ditegur. Hal ini mengakibatkan orang lain (tentara dan pemerintah AS)
harus menanggung akibat dari perbuatan mereka. Para anggota kongres AS pun buka
suara agar pemerintah Obama segera menghentikan kontrak-kontrak tentara bayaran
warisan rezim Bush. Bush sendiri diduga mendapatkan keuntungan pribadi dari
kontrak-kontrak ratusan juta dolar dengan para penyedia tentara bayaran seperti
ini.
No comments:
Post a Comment